h1

Perjumpaan malam

April 7, 2008

Salam,
Najwa bagaimana kabarmu kini? Masih teringat dengan jelas dalam benakku, terakhir ku tulis surat untukmu, lima tahun lalu. Menelisik kerinduanku Najwa, untuk kembali menulis surat, yang berisi mengenai ceritaku akan gelisah, suka dan duka mendalam yang sering aku alami. Tiada yang berharga bagiku Najwa, selain persaudaraan dan persahabatan. Meski surat-surat yang selalu engkau kirim dulu hanya berujung pada pertengkaran dan perdebatan panjang.. tapi aku rindukan itu Najwa. Karena kau, sahabatku.

Hari-hari terakhir ini aku merasa malam akan semakin larut menyelimuti kehidupan kita. Mungkin, satu tahun lagi tiada lagi bintang yang akan dapat kita lihat seperti biasanya. Tidur terlentang di atas lapangan, ukuran setengah lapangan sepakbola yang tak berumput. Mencuri-curi pandang melihat bintang. Siapa bilang bintang tak dapat dihitung? Di negeri kita Najwa, bintang dapat dihitung bukan hanya dengan jari tangan dan kaki; tapi cukup satu tangan saja. Melihat bintang itu bersamamu Najwa, adalah kemewahan yang berharga dalam hidupku. Laksana taman bunga bagi musafir, meski tak sempat ia temukan mata air. Taman bunga adalah harapan baginya.

Sampai kapan engkau akan terus berada di sana Najwa? Negeri ini membutuhkan orang seperti engkau Najwa. Kecuali engkau telah berubah, karena ku dengar, kau telah menjadi “orang” sekarang. Engkau boleh berubah Najwa, untuk menjadi orang yang tak lagi mencintaiku. Tapi engkau tak boleh berubah Najwa, menjadi orang yang dahulu kita umpat batang hidungnya..

Kembalilah segera. Kita akan bermain petak umpet diantara gedung pencakar langit Jakarta. Kita akan berenang di Bengawan Solo yang telah merendamkan ribuan rumah rakyat miskin. Kita akan mengembala ternak di antara kendaraan tambang perusahaan asing. Kita, kau dan aku Najwa, akan bermain layangan di sela-sela bayangan intaian satelit liberalisme dan kapitalisme global. Memang banyak hal telah berubah Najwa, tapi tidak akan pernah berubah hal yang dapat membuat kita tersenyum.

Aku ingin menjumpaimu sekali lagi Najwa, menjelang malam yang semakin larut. Menjelang kebohongan-kebohongan menjadi kebenaran baru… Ijinkan aku bersua denganmu kembali Najwa, meski dalam surat, telah ku teteskan air mata bahagia atas cerita-cerita kita di hari mendatang.

Sahabat dan cintamu,
Sukoharjo, 7 April 2008

Tinggalkan sebuah Komentar